Komuniti iluvislam.com : Seni Fotografi Dalam Skop Pandangan Islam - Komuniti iluvislam.com

Jump to content

Page 1 of 1
  • You cannot start a new topic
  • You cannot reply to this topic

Seni Fotografi Dalam Skop Pandangan Islam

#1 User is offline   IndahCiptaanNya 

  • Group: Members
  • Posts: 1
  • Joined: 26-February 11

Posted 26 February 2011 - 01:43 PM

Assalamualaikum w.b.t.....
saya ingin mngemukakan soalan mengenai seni foto dalam islam....
apakah hukum disebalik seni berkenaan....
dan kalau ada ape2 berkaitan dgn nye....

trima kasih...
0

#2 User is offline   gumuruh 

  • Group: Members
  • Posts: 22
  • Joined: 26-February 11

Posted 26 February 2011 - 02:49 PM

View PostIndahCiptaanNya, on 26 February 2011 - 01:43 PM, said:

Assalamualaikum w.b.t.....
saya ingin mngemukakan soalan mengenai seni foto dalam islam....
apakah hukum disebalik seni berkenaan....
dan kalau ada ape2 berkaitan dgn nye....

trima kasih...



hmmm,
iye ye... pasal foto nie...
macam mana ye? saya ingat dulu ada pak cik saya kata
tak leh melukis... tp seiring dengan kemajuan modern,
banyak benda dah senang menjadi sebuah "gambar" -> foto juga la tu.


waah, ana assif... tak pandai... :D
tapi, jika digunakan untuk tujuan mengingat ilahi (allah),
saya rasa tak pa kot... bergantung kepada tujuan dia... :D

wallahu'alam. ;)
0

#3 User is offline   Zulhafidz 

  • Krew Iluvislam
  • Group: Members
  • Posts: 883
  • Joined: 27-April 08

Posted 02 March 2011 - 09:52 AM

Assalamualaikum Warahmatullah.
Gambar fotografi adalah suatu perkara baru yang tidak ada pada zaman Rasulullah S.A.W. Jadi perbincangan mengenai hukum fotografi telah dibincangkan oleh ulama-ulama masa kini menurut syariat Islam. Di sini saya ingin membuat kesimpulan berkenaan isu ini setelah sahabat-sahabat semua membincangkannya. InsyaAllah.

Hakikat Fotografi Pendapat
01: Adalah satu teknik menyekat bayang. Pendapat
02: Merupakan proses menyimpan pantulan gambar dari sesuatu yang terkena cahaya.

Hukum Fotografi Antara ulama yang mengharuskan gambar fotografi adalah:

- Syeikh Dr. Yusuf al-Qaradawi. - Syeikh Muhammad Mutawalli Syarawi. - Syeikh Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buti. - Syeikh Najib Mutiie. Berkata Syeikh Dr. Yusuf al-Qaradawi (lihat kitabnya: Halal Wal Haram Fil Islam):

Hukum asal bagi gambar fotografi adalah diharuskan selagi tidak merangkumi perkara yang diharamkan seperti untuk mengagungkannya. Pengagungan ini sama ada kerana agama atau dunia. Lebih-lebih lagi yang diagungkan itu adalah orang-orang kafir dan fasik seperti penyembah berhala serta mereka yang berfahaman komunis dan artis-artis yang melampau.

Kesimpulan: Walaupun ulama-ulama berselisih pendapat mengenai hukum gambar fotografi namun di sana pendapat yang kuat mengatakan adalah harus gambar fotografi. Pengharusan ini selagimana tidak terdapat unsur-unsur yang diharamkan dalam syariat Islam. Wallahualam... Edited by buluh on 25.02.2008 02:07
0

#4 User is offline   Zulhafidz 

  • Krew Iluvislam
  • Group: Members
  • Posts: 883
  • Joined: 27-April 08

Posted 02 March 2011 - 09:53 AM

Hukum Fotografi
oleh Dr. Yusuf Al-Qaradawi dalam kitab : Al-Halal Wal Haram fil Islam

Satu hal yang tidak diragukan lagi, bahwa semua persoalan gambar dan menggambar, yang dimaksud ialah gambar-gambar yang dipahat atau dilukis, seperti yang telah kami sebutkan di alas.

Adapun masalah gambar yang diambil dengan menggunakan sinar matahari atau yang kini dikenal dengan nama fotografi, maka ini adalah masalah baru yang belum pernah terjadi di zaman Rasulullah s.a.w. dan ulama-ulama salaf. Oleh karena itu apakah hal ini dapat dipersamakan dangan hadis-hadis yang membicarakan masalah melukis dan pelukisnya seperti tersebut di atas?

Orang-orang yang berpendirian, bahwa haramnya gambar itu terbatas pada yang berjasad (patung), maka foto bagi mereka bukan apa-apa, lebih-lebih kalau tidak sebadan penuh. Tetapi bagi orang yang berpendapat lain, apakah foto semacam ini dapat dikiaskan dengan gambar yang dilukis dengan menggunakan kuasa? Atau apakah barangkali illat (alasan) yang telah ditegaskan dalam hadis masalah pelukis, yaitu diharamkannya melukis lantaran menandingi ciptaan Allah --tidak dapat diterapkan pada fotografi ini? Sedang menurut ahli-ahli usul-fiqih kalau illatnya itu tidak ada, yang dihukum pun (ma'lulnya) tidak ada.

Jelasnya persoalan ini adalah seperti apa yang pernah difatwakan oleh Syekh Muhammad Bakhit, Mufti Mesir: "Bahwa fotografi itu adalah merupakan penahanan bayangan dengan suatu alat yang telah dikenal oleh ahli-ahli teknik (tustel). Cara semacam ini sedikitpun tidak ada larangannya.

Karena larangan menggambar, yaitu mengadakan gambar yang semula tidak ada dan belum dibuat sebelumnya yang bisa menandingi (makhluk) ciptaan Allah. Sedang pengertian semacam ini tidak terdapat pada gambar yang diambil dengan alat (tustel)."

Sekalipun ada sementara orang yang ketat sekali dalam persoalan gambar dengan segala macam bentuknya, dan menganggap makruh sampai pun terhadap fotografi, tetapi satu hal yang tidak diragukan lagi, bahwa mereka pun akan memberikan rukhshah terhadap hal-hal yang bersifat darurat karena sangat dibutuhkannya, atau karena suatu maslahat yang mengharuskan, misalnya kartu pendliduk, paspor, foto-foto yang dipakai alat penerangan yang di situ sedikitpun tidak ada tanda-tanda pengagungan. atau hal yang bersifat merusak aqidah. Foto dalam persoalan ini lebih dibutuhkan daripada melukis dalam pakaian-pakaian yang oleh Rasulullah sendiri sudah dikecualikannya.
Subjek Gambar
Yang sudah pasti, bahwa subjek gambar mempunyai pengaruh soal haram dan halalnya. Misalnya gambar yang subjeknya itu menyalahi aqidah dan syariat serta tata kesopanan agama, semua orang Islam mengharamkannya.

Oleh karena itu gambar-gambar perempuan telanjang, setengah telanjang, ditampakkannya bagian-bagian anggota khas wanita dan tempat-tempat yang membawa fitnah, dan digambar dalam tempat-tempat yang cukup membangkitkan syahwat dan menggairahkan kehidupan duniawi sebagaimana yang kita lihat di majalah-majalah, surat-surat khabar dan bioskop, semuanya itu tidak diragukan lagi tentang haramnya baik yang menggambar, yang menyiarkan ataupun yang memasangnya di rumah-rumah, kantor-kantor, toko-toko dan digantung di dinding-dinding. Termasuk juga haramnya kesengajaan untuk memperhatikan gambar-gambar tersebut.

Termasuk yang sama dengan ini ialah gambar-gambar orang kafir, orang zalim dan orang-orang fasik yang oleh orang Islam harus diberantas dan dibenci dengan semata-mata mencari keridhaan Allah. Setiap muslim tidak halal melukis atau menggambar pemimpin-pemimpin yang anti Tuhan, atau pemimpin yang menyekutukan Allah dengan sapi, api atau lainnya, misalnya orang-orang Yahudi, Nasrani yang ingkar akan kenabian Muhammad, atau pemimpin yang beragama Islam tetapi tidak mau berhukum dengan hukum Allah; atau orang-orang yang gemar menyiarkan kecabulan dan kerusakan dalam masyarakat seperti bintang-bintang film dan biduan-biduan. Termasuk haram juga ialah gambar-gambar yang dapat dinilai sebagai menyekutukan Allah atau lambang-lambang sementara agama yang samasekali tidak diterima oleh Islam, gambar berhala, salib dan sebagainya.

Barangkali seperai dan bantal-bantal di zaman Nabi banyak yang memuat gambar-gambar semacam ini. Oleh karena itu dalam riwayat Bukhari diterangkan; bahwa Nabi tidak membiarkan salib di rumahnya, kecuali dipatahkan. Ibnu Abbas meriwayatkan:

"Sesungguhnya Rasulullah s.a. w. pada waktu tahun penaklukan Makkah melihat palung-patung di dalam Baitullah, maka ia tidak mau masuk sehingga ia menyuruh, kemudian dihancurkan." (Riwayat Bukhari).

Tidak diragukan lagi, bahwa patung-patung yang dimaksud adalah patung yang dapat dinilai sebagai berhala orang-orang musyrik Makkah dan lambang kesesatan mereka di zaman-zaman dahulu.
Ali bin Abu Talib juga berkata:
Rasulullah s.a.w. dalam (melawat) suatu jenazah ia bersabda: Siapakah di kalangan kamu yang akan pergi ke Madinah, maka jangan biarkan di sana satupun berhala kecuali harus kamu hancurkan, dan jangan ada satupun kubur (yang bercungkup) melainkan harus kamu ratakan dia, dan jangan ada satupun gambar kecuali harus kamu hapus dia! Kemudian ada seorang laki-laki berkata: Saya! Ya, Rasulullah! Lantas ia memanggil penduduk Madinah, dan pergilah si laki-laki tersebut. Kemudian ia kembali dan berkata: Saya tidak akan membiarkan satupun berhala kecuali saya hancurkan dia, dan tidak akan ada satupun kuburan (yang bercungkup) kecuali saya ratakan dia dan tidak ada satupun gambar kecuali saya hapus dia. Kemudian Rasulullah bersabda: Barangsiapa kembali kepada salah satu dari yang tersebut maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad s.a.w." (Riwayat Ahmad; dan berkata Mundziri: Insya Allah sanadnya baik)

Barangkali tidak lain gambar-gambar/patung-patung yang diperintahkan Rasulullah s.a.w. untuk dihancurkan itu, melainkan karena patung-patung tersebut adalah lambang kemusyrikan jahiliah yang oleh Rasulullah sangat dihajatkan kota Madinah supaya bersih dari pengaruh-pengaruhnya. Justru itulah, kembali kepada hal-hal di atas berarti dinyatakan kufur terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad.
Kesimpulan Hukum Gambar dan Yang Menggambar
Dapat kami simpulkan hukum masalah gambar dan yang menggambar sebagai berikut:

1. Macam-macam gambar yang sangat diharamkan ialah gambar-gambar yang disembah selain Allah, seperti Isa al-Masih dalam agama Kristen. Gambar seperti ini dapat membawa pelukisnya menjadi kufur, kalau dia lakukan hal itu dengan pengetahuan dan kesengajaan.Begitu juga pemahat-pemahat patung, dosanya akan sangat besar apabila dimaksudkan untuk diagung-agungkan dengan cara apapun. Termasuk juga terlibat dalam dosa, orang-orang yang bersekutu dalam hal tersebut.

2. Termasuk dosa juga, orang-orang yang melukis sesuatu yang tidak disembah, tetapi bertujuan untuk menandingi ciptaan Allah. Yakni dia beranggapan, bahwa dia dapat mencipta jenis baru dan membuat seperti pembuatan Allah. Kalau begitu keadaannya dia bisa menjadi kufur. Dan ini tergantung kepada niat si pelukisnya itu sendiri.

3. Di bawah lagi patung-patung yang tidak disembah, tetapi termasuk yang diagung-agungkan, seperti patung raja-raja, kepala negara, para pemimpin dan sebagainya yang dianggap keabadian mereka itu dengan didirikan monumen-monumen yang dibangun di lapangan-lapangan dan sebagainya. Dosanya sama saja, baik patung itu satu badan penuh atau setengah badan. Di bawahnya lagi ialah patung-patung binatang dengan tidak ada maksud untuk disucikan atau diagung-agungkan, dikecualikan patung mainan anak-anak dan yang tersebut dari bahan makanan seperti manisan dan sebagainya.

4. Selanjutnya ialah gambar-gambar di pagan yang oleh pelukisnya atau pemiliknya sengaja diagung-agungkan seperti gambar para penguasa dan pemimpin, lebih-lebih kalau gambar-gambar itu dipancangkan dan digantung. Lebih kuat lagi haramnya apabila yang digambar itu orang-orang zalim, ahli-ahli fasik dan golongan anti Tuhan. Mengagungkan mereka ini berarti telah meruntuhkan Islam.

5. Di bawah itu ialah gambar binatang-binatang dengan tidak ada maksud diagung-agungkan, tetapi dianggap suatu manifestasi pemborosan. Misalnya gambar gambar di dinding dan sebagainya. Ini hanya masuk yang dimakruhkan. Adapun gambar-gambar pemandangan, misalnya pohon-pohonan, korma, lautan, perahu, gunung dan sebagainya, maka ini tidak dosa samasekali baik si pelukisnya ataupun yang menyimpannya, selama gambar-gambar tersebut tidak melupakan ibadah dan tidak sampai kepada pemborosan. Kalau sampai demikian, hukumnya makruh.

6. Adapun fotografi, pada prinsipnya mubah, selama tidak mengandung objek yang diharamkan, seperti disucikan oleh pemiliknya secara keagamaan atau disanjung-sanjung secara keduniaan. Lebih-lebih kalau yang disanjung-sanjung itu justru orang-orang kafir dan ahli-ahli fasik, misalnya golongan penyembah berhala, komunis dan seniman-seniman yang telah menyimpang.

7. Terakhir, apabila patung dan gambar yang diharamkan itu bentuknya diuubah atau direndahkan (dalam bentuk gambar), maka dapat pindah dari lingkungan haram menjadi halal. Seperti gambar-gambar di lantai yang biasa diinjak oleh kaki dan sandal.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
0

#5 User is offline   Zulhafidz 

  • Krew Iluvislam
  • Group: Members
  • Posts: 883
  • Joined: 27-April 08

Posted 02 March 2011 - 09:57 AM

assalammualaikum..

sejak kebelakangan ni,kite selalu dgr pasal kamera yg serba canggih sama ada di tv,surat kabar,radio,FB,blog dan mcm2 lagi la medium yg ada..yup,itu la dia, kamera DSLR yg semakin menjadi sebutan n impian org ramai..memandangkan ia terlalu canggih,jd harganya sudah pasti canggih juge..xmaen la below rm1000..beriban2 gak la kalo nak dpt yg terrrrrrcanggeh..tu xkira tambahan accessoriesnye lagi..haisshh..modal yg sgt besau tu...

oleh kerana modal yg besau,maka timbul la keinginan untuk membuat bisnes menggunakan pelaburan ini..ye la..beli kamera riban2..nak upgrade lg..mane la nak ade duit byk2..so,bercita2 la nak menjadi fotografer..amek tempahan untuk tgkp gmbar mjlis,gmbr iklan,gmbar pengantin,gambar couple,gmbar model dan mcm2 la..dgn bayaran yg setimpal dgn modal yg dilaburkan..sbbnye,nanti ade untung,buley la pusing balek duit tu n upgrade kamera ke tahap lebih canggeh...

disebabkan hal ni,maka timbullah satu persoalan iaitu mencari rezki dgn mengambil gmbar org mmbuka aurat..dan kite fokuskan kepada pengantin la sbb biase org kawen ni mmg cari fotografer utk amek gmbar diorg..APAKAH HUKUMNYA??

saya ada jmpe jawapan kepada persoalan ni dalam satu sesi soal jawab..jadi saya rase nak share la ngan anda semua sebagai satu penyebaran ilmu dan pengetahuan yg baek untuk kite kongsikan bersama...

> Assalamualaikum,

Saya membuat perkerjaan mejadi jurugambar perkahwinan separuh masa. Dalam proses itu ada terdapat pengantin perempuan yg tidak memakai tudung/mendedahkan aurat rambutnya semasa proses bersolek oleh mak andam. Pengantin berkehendakkan saya mengambil gambar gambar nya disolek oleh mak andam. Kemudian selepas pengantin siap bersolek, dia akan memakai tudung penuh menutup aurat untuk upacara akad nikahnya dan perkahwinannya.

1) Adakah dibolehkan saya mengambil gambar pengantin perempuan yg sedang disolekkan yg tidak menutup rambut kerana dia diminta oleh pengantin perempuan?

~~Reply: wsm Hukum alat atTasweer (fotografi) adalah mubah di sisi jumhur (Dr Qardhawi dalam Halal dan Haram, Syaikh alBukhit, Mantan Mufti Mesir (aljawab asSyaafi), manakala Haram di sisi haiah Kibr ulama' Arab Saudi dan Imam alMuhaddith alAlbani rh dari Syria. Mengikut Dr alQardhawi, walaupun fotografi harus hukumnya, tapi hukumnya bergantung kepada Objek fotografi atau objek yg di ambil oleh fotografi itu. Jika gambar yg diambil adalah gambar bogel, maka ketika itu hukum fotografi adalah haram. begitu juga gambar perempuan yg membuka auratnya. Hukum yg kedua: hukum melihat awrat perempuan tanpa keperluan yg dharurat (spt perubatan bg seorang doktor), maka hukumnya adalah haram. Maka hukum anda mengambil gambar2 perempuan yg mendedahkan aurat adalah haram hukumnya. permintaan pelanggan bukanlah alasan utk mengharuskan yg haram.

2) Apakah rezeki yg saya terima dari mengambil gambar pengantin sedang disolekkan ini halal?

~~Reply: Tidak halal. Ini kerana mengikut kaedah fiqih: al hukum bil wasilah hukmu bil maqosyid (hukum bagi wasilah adalah hukum dari maksud), ia datang dari kaedah fiqih: Ma haruma isti'maaluh, haruma ittikhaazuh (yg haram penggunaannya, haram pula memperolehnya) (Muhamamd alZarqa', syarah qawaid/389)

3) Bagaimana pula dengan hasil rezeki gambar gambar pengantin perempuan yg menutup aurat penuh? Adakah rezeki yg diterima itu halal?

~~Reply: Halal. Ia kembali kpd hukum asal fotografi adalah harus dan harus pula rezki dari foto2 yg halal

4)Bolehkan saya menolak jumlah wang gambar pengantin perempuan yg tidak menutup aurat ini daripada keseluruhan wang hasil gambar perkahwinannya?
Maknanya saya hanya memakan hasil gambar yg diambil pengantin wanita yg menutup aurat sahaja (memberikan hasil ini sebagai rezeki keluarga) dan hasil gambar yg tidak menutup aurat saya tidak memakannya (iaitu menggunakan hasil itu dengan membeli kamera/filem baru). COntohnya harga pakej gambar ialah RM100. Katakan ada 40 (40%) keping gambar pengantin wanita tidak menutup aurat rambut dan 60 (60%) keping lagi menutup aurat penuh. Jadi saya memberikan rezeki RM60 itu kepada keluarga saya dan RM40 itu saya tidak memakannya (dan menggunakan RM40 utk membeli filem/lensa etc)

~~Reply: Amalan spt ini sebenarnya tidak pernah dilakukan oleh orang Islam sebelum ini khususnya di zaman salaf assoleh. Mereka berpegang teguh dgn hadis asySyarif, Hadis no 6 dalam Matan arba'een anNawawiyah (Matan hadis 40 Imam syarf anNawawi) dari Nu'man bin Bashir yg dikeluarkan oleh Dua Sahih Bukhari-Muslim," " Sesungguhnya yg Halal itu jelas, yg haram itu jelas dan di antara kedua-nya banyak perkara syubhah (samar2) yg kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." Maksudnya jika kita melakukan begitu, cuba membuat perakaunan (accounting) ini dari sumber halal dan ini dari sumber haram. ini kerana kita takut accounting itu tidak tepat dan masih ada yg syubhah. Lagipun dalam tubuh orang Islam itu tidak berhimpun sifat toleran kepada yg haram dan syubhah. Dia hanya mengutamakan Halal bayyin dalam semua urusan hidupnya. Dalilnya: "Allah sekali-kali tidak menjadikan bg seseorang dua buah hati dalam rongganya." AQ 33:04 Maksud ayat ini, orang Islam dia hanya ada satu buah hati, ada satu pilihan, hanya memilih yg halal sahaja dan menjauhi syubhah apatah lagi yg haram dalam urusan hidupnya. Bagaimana solusinya: Anda hendaklah ada rakan kongsi perempuan atau mungkin isteri anda sendiri yg ditugaskan mengambil gambar2 belakang tabir itu.

sekian....

* Islam tu mudah tapi jgn ambil mudah pasal Islam
* mencari yg halal itu wajib bagi umat Islam
0

#6 User is offline   Eyda Aam 

  • Group: Members
  • Posts: 212
  • Joined: 04-April 10

Posted 02 March 2011 - 06:02 PM

Alhamdulillah. Dalam pencarian tentang hukum mengambil gambar pengantin dan apa-apa yang berkaitan dengannya , terjawab juga di sini. Bukan apa hanya inginkan pengetahuan ini bertujuan untuk diri sendiri dan insyaALLAH dapat disampaikan pada pelajar-pelajar tentang bidang kerjaya tersebut di sisi Islam berdasarkan skop yang tertentu.

Terfikir juga tentang hal-hal yang berkaitan dengan perkahwinan ini seperti mak andam, tukang buat pelamin dan sebagainya yang mana sesetengah perlaksanaan itu sah bertentangan dengan Islam. Rasanya sama halnya dengan permasaalahan jurugambar juga kan.

Pernah dengar daripada seseorang berkata secara berseloroh “ Ni kalau nak terjun ke dalam api neraka dulu ,‘*mak andam’ la” Dulu saya kurang faham apa maksud beliau. Tapi rasanya sekarang dah faham kot.

Maaflah atas segala kenyataan yang terkeluar dari tajuk ni. Kalau saya salah sila betulkan ya.

* kalau tak salah yang cukur-cukur kening kot , siap ngan ayat penaik seri dan segalanya yang sewaktu dengnnya

wALLAHUa'lam

p/s syukran atas informasi yang berguna ini.
0

#7 User is offline   asy_raaf 

  • Group: Members
  • Posts: 62
  • Joined: 13-August 09

Posted 14 March 2011 - 08:31 PM

wah, syukron byk2~~~ sbb jadikan panduan hidup utk ana yg bwu nak ceburi bidang ini yg nak jadikan suatu bisnes... nsib x shoot lg gambar pra-wedding yg jd trend pakej gambar org kahwin skang nih~~~~~~~ thanks a lot~~~~ ;)
0

#8 User is offline   mohdzahid 

  • Group: Members
  • Posts: 20
  • Joined: 19-April 11
  • LocationKL

Posted 19 April 2011 - 10:41 AM

persoalan yang timbul..cmana kalau yang hire tu memang tak pakai tudung atau pakai tudung tapi aurat tak sempurna dek baju ketat atau kain nipis...then camana pulak kalau posing atas katil? posing ni agak famous even ana mase mula2 kawin dulu pun ade ambil n penah kene tegur, walau pun zaujah ana takde la baring2 pun, just duduk2 jer...camana ek?
0

Share this topic:


Page 1 of 1
  • You cannot start a new topic
  • You cannot reply to this topic