Komuniti iluvislam.com : *Benarkah Imam Syafiee Mengharamkan Kenduri Tahlil? - Komuniti iluvislam.com

Jump to content

Page 1 of 1
  • You cannot start a new topic
  • You cannot reply to this topic

*Benarkah Imam Syafiee Mengharamkan Kenduri Tahlil?

#1 User is offline   itix 

  • Group: Members
  • Posts: 5
  • Joined: 03-January 08

Posted 16 January 2008 - 09:21 AM

salam... spt tajuk diatas sy msih tidak puas ati dgn pengharaman kenduri tahlil ni...isu ini ditulis oleh seseorang yg pd pandangan sy yg fahaman wahabi yakni tdk sekepala dgn sufiyyah...berikut adalah kandungan isinya...hrp ustaz@ustazah dpt membantu sy... Sekali lagi mengenai bacaan tahlil adalah suatu bacaan yang sangat dianjurkan oleh nabi untuk kita memperbanyak membacanya, dengan susunan dan urutan yang tidak ada ketentuan khusus dari Nabi saw. Bagaimana dengan niat sedekah dalam acara tahlilan kematian? Dari Jabir bin Abdullah Al Bajali dengan sanad yang shohih: "Adalah kami (para sahabat) menganggap bahwa berkumpul di rumah ahli mayyitdan mereka menyediakan makanan sesudah mayyit dimakamkan adalah termasuk perbuatan meratap". (HR Ahmad) Berkumpul dan menyediakan makanan dirumah ahli mayyit adalah termasuk perbuatan meratap. Dan seperti yang kita ketahui meratapi orang mati adalah termasuk perbuatan haram, ini berarti berkumpul dan menyediakan makanan dirumah ahli mayyit adalah haram hukumnya. Niat bersedekah dalam acara seperti ini tentunya menyalahi sunnah nabi. Beramal haruslah dengan ilmu, yaitu mengikuti apa yang dicontohkan nabi, dan tidak melanggar apa yang dilarang oleh Nabi saw. Berikut ada artikel mengenai hal tersebut. Keterangan yang dikutip dalam artikel tersebut banyak didapati dalam kajian yang saya ikuti. Jika Ustadz yang menyampaikan amanah dalam menyampaikan ilmunya, insya allah keterangan2 yang disebutkan dalam artikel tersebut adalah shahih. ------------------------------------------------- MENGIRIM PAHALA TAHLIL[/color] BERTAHLIL merupakan satu perbuatan bacaan yang dilakukan untuk dikirimkan kepada seseorang yang meninggal dunia atau roh mayat. Ia merupakan satu tradisi tetap yang diamalkan di kalangan masyarakat kita pada hari ini. Lazimnya, bacaan yang diucapkan sewaktu bertahlil diambil dari ayat-ayat al-Qur'an tertentu, seperti kalimat La Ilaha Illa Allah atau Subhanaallah atau lain-lain dengan niat bacaan-bacaan tersebut dapat dihadiahkan atau dikirimkan kepada orang yang meninggal dunia atau roh mayat di kalangan orang Islam. Terdapat perkara yang belum diketahui oleh banyak orang di kalangan umat Islam bahwa sesungguhnya amalan bertahlil yang pahalanya dikirimkan untuk seseorang yang mati sebenarnya bertentangan dengan banyak pendapat di kalangan ulama-ulama yang bermazhab imam Syafi'i. Termasuk imam Syafi'i sendiri yang tidak sependapat atau tidak setuju dengan amalan tahlil ini. Namun memang ada juga ulama-ulama yang berpendapat amalan tersebut boleh dilakukan, namun pandangan tersebut adalah sangat lemah dan bertentangan dengan ajaran al-Qur'an (pada surah an-Najm ayat 39) dan sunnah nabi serta para sahabatnya. Di bawah ini adalah sebagian daripada pendapat ulama Safi'iyah yang berkaitan dengan amalan tersebut. Pendapat-pendapat ini diambil dari kitab-kitab tafsir, kitab-kitab fiqh dan kitab-kitab syarah hadits. 1. Pendapat Imam Syafi'i rahimahullah. Imam Nawawi menyebutkan di dalam kitabnya, Syarah Muslim: "Adalah, bacaan al-Qur'an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayat), maka pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafie ialah amalan tersebut tidak akan sampai kepada mayat. Sebagai dalilnya, imam Syafie dan para pengikutnya mengambil daripada firman Allah SWT (yang artinya), "Dan seseorang itu tidak akan memperoleh melainkan pahala daripada daya usahanya sendiri." Serta dalam sebuah sabda Nabi Sallallahu `alaihi wasallam yang bermaksud, "Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah segala amal usahanya kecuali tiga daripada amalnya, sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak (lelaki atau perempuan) soleh yang berdoa untuk simati"(an-Nawawi, Syarah Muslim : juz 1 hal; 9) Kemudian imam Nawawi di dalam kitab Taklimatul Majmu', Syarah Muhazzab juga mengatakan: "Adalah membaca al-Qur'an dan mengirimkannya sebagai pahala untuk seseorang yang mati dan menggantikan sembahyang untuk seseorang yang mati atau sebagainya adalah tidak sampai kepada mayat yang dikirimkan menurut Jumhurul Ulama dan imam Syafie." Keterangan ini telah diulang beberapa kali oleh imam Nawawi di dalam kitabnya, Syarah Muslim. (as-Subuki, Taklimatul Majmu', Syarah Muhazzab: juz 10, hal; 426) Menggantikan sembahyang untuk si mati maksudnya adalah menggantikan sembahyang yang telah ditinggalkan oleh si mati semasa hidupnya. 2. Al-Haitami di dalam kitabnya, al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, berkata: "Bagi seseorang mayat, tidak boleh dibacakan kepadanya apa-apa pun berdasarkan keterangan yang mutlak dari ulama Mutaqaddimin (terdahulu) yaitu bacaan-bacaan yang disedekahkan kepada si mati adalah tidak akan sampai kepadanya karena pahala bacaan tersebut hanya pembacanya saja yang menerima. Pahala yang diperoleh dari hasil suatu amalan yang telah dibuat oleh amil (orang yang beramal) tidak boleh dipindahkan kepada orang lain berdasarkan sebuah firman Allah yang berbunyi, "Dan manusia tidak memperolehi kecuali pahala dari hasil usahanya sendiri."(Al-Haitami, al-Fatawa al-Kubra al- Fiqhiyah : juz 2, hal; 9) 3. Imam Muzani (Murid Imam Syafi'i), di dalam Hamisy al-Umm, juga berkata: "Rasulullah Sallallahu `alaihi wasallam telah memberitahu sebagaimana yang telah diberitakan dari Allah bahawa dosa seseorang akan menimpa dirinya sendiri seperti halnya sesuatu amal yang telah dikerjakan adalah hanya untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain dan ia tidak dapat dikirimkan kepada orang lain."(Catatan kaki al-Umm as-Syafie : juz 7, hal ; 269) 4. Imam al-Khazin di dalam tafsirnya mengatakan, "Dan yang masyhur di dalam mazhab Syafie adalah bahwa bacaan al-Qur'an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayat) adalah tidak dapat sampai kepada mayat yang dikirimkan" (Al-Khazin, al-Jamal : Juz 4, hal ; 236) 5. Di dalam tafsir Jalalain telah disebutkan seperti berikut, "Maka seseorang tidak akan memperolehi pahala sedikit pun dari hasil usaha orang lain." (Tafsir Jalalain : juz 2, hal ; 197) 6. Ibnu Katsir di dalam tafsirnya, Tafsirul Qur'anil Azim telah menafsirkan surah an-Najm ayat 39 sebagai berikut: "Yaitu sebagaimana dosa seseorang tidak boleh menimpa atas orang lain begitu juga halnya seseorang manusia juga tidak bisa memperoleh pahala melainkan dari hasil usaha amalannya sendiri. Dan daripada surah an-najm ayat 39 ini, Imam Syafie r.a dan para ulama yang mengikutnya telah mengambil kesimpulan bahwa, pahala bacaan yang dikirimkan kepada mayat adalah tidak akan sampai kepadanya karena amalan tersebut bukan daripada hasil usahanya sendiri. Oleh sebab itu, Rasulullah Sallallahu `alaihi wasallam tidak pernah menganjurkan umatnya agar mengamalkan pengiriman tahlil. Baginda juga tidak pernah memberikan bimbingan tersebut dalam nas atau berupa isyarat di dalam hal tersebut. Tidak juga di kalangan para sahabat ada yang melakukan amalan tersebut, dan sekiranya amalan tersebut memang satu amalan yang digalakkan, tentunya mereka telah mengamalkannya terlebih dahulu, karena amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah ada batasan-batasan nas yang terdapat di dalam al-Qur'an dan sunnah Rasul Sallallahu `alaihi wasallam dan tidak boleh dipalingkan dengan qias-qias atau pendapat-pendapat ulama." Demikianlah beberapa pendapat ulama Safi'iyah yang berkaitan dengan amalan bertahlil dan pengiriman pahala bacaan kepada si mati. Dari situ bisa dilihat, bahwa ternyata pendapat-pendapat tersebut telah bersepakat dan mempunyai satu pandangan yang teguh yaitu mengirimkan pahala bacaan al-Qur'an kepada si mati adalah tidak akan sampai kepada si mati atau roh yang dikirimkan. Dasar hukum yang telah para ulama tersebut ambil adalah dari firman Allah SWT di dalam surah an-Najm ayat 39 dan melalui hadits nabi Sallallahu `alaihi wasallam yang menerangkan bahwa apabila seseorang manusia itu mati, segala amalannya di dunia telah terputus kecuali tiga hal yaitu, sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan dan doa anak-anak yang soleh untuk kedua ibu bapanya. [size=4]SELAMATAN UNTUK KEMATIAN (KENDURI) Selamatan untuk kematian biasanya digambarkan dengan berkumpul bersama-sama (keluarga dan masyarakat sekampung atau lain-lain) dengan dihidangkan makanan oleh keluarga yang mengalami kematian. Hal ini dilakukan di rumah keluarga yang mengalami kematian pada hari kematian atau hari kedua, ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus atau sebagainya. Sebenarnya, apabila diperiksa dan diperhatikan satu persatu di dalam kitab-kitab Syafi'yah seperti halnya yang ada pada kitab Fiqh, tafsir maupun syarah-syarah hadits, amalan selamatan telah ditemui di situ bahwa hal tersebut adalah amalan yang dilarang atau dengan kata lain ialah haram. Hal ini sebenarnya belum diketahui oleh banyak pengikut mazhab Syafi'i di kalangan kita sendiri. Jika ada yang tahu, tentu jumlahnya hanya segelintir saja. Oleh karena itu, mari kita ikuti bersama bagaimana pandangan ulama-ulama mazhab Syafi'i di dalam hal ini. 1. Di dalam kitab Fiqh I'anatut Talibin telah menyatakan, "Ya, apa-apa yang dilakukan oleh orang yaitu berkumpul di rumah keluarga mayat dan dihidangkan makanan untuk perkumpulan itu, ia adalah termasuk bid'ah mungkarat (bid'ah yang diingkari agama). Bagi orang yang memberantasnya akan diberi pahala." (I'anatut Talibin, syarah Fathul Mu'in : juz 2, hal 145) 2. Imam Syafie sendiri tidak menyukai amalan berkumpul di rumah kematian sepertimana yang telah dikemukakan di dalam kitab al-Umm (Kitab Karangan Imam Syafi'I yang masyhur) : "Aku tidak suka akan mat'am yaitu berkumpul (di rumah keluarga mayat) meskipun di situ tiada tangisan kerana hal tersebut malah akan menimbulkan kesedihan." (As-Syafie al-Umm : juz 1; hal 24) 3. Selanjutnya di dalam kitab I'anatut Talibin juga disebutkan lagi, "Dan perkara yang sudah menjadi kebiasaan yaitu keluarga mayat menghidangkan makanan untuk para undangan yang berkumpul, adalah satu perkara bid'ah yang tidak disukai agama (Islam). Hal ini samalah seperti berkumpul di rumah keluarga kematian itu sendiri karena terdapat hadits sahih yang telah diriwayatkan oleh Jarir r.a yang berkata, "Kami menganggap bahwa berkumpul di rumah keluarga kematian yang menghidangkan makanan untuk jamuan para hadirin adalah sama dengan hukum niyahah (meratapi mayat) yaitu haram." (I'anatut Talibin, juz 2, hal 146) 4. Pengarang kitab I'anatut Talibin juga mengambil keterangan sahih di dalam kitab Bazzaziyah yaitu, "Dan hal itu dibenci, menyelenggarakan makanan pada hari pertama (kematian), hari ketiga, sesudah seminggu dan juga memindahkan makanan ke tanah kubur secara bermusim-musim." (I'anatut Talibin, juz 2, hal 146) 5. Di dalam kitab Fiqh Mughnil Muhtaj disebutkan: "Adalah, keluarga kematian yang menyediakan makanan dan orang ramai berkumpul di rumahnya untuk menjamu, merupakan bid'ah yang tidak disunatkan, dan di dalam hal ini Imam Ahmad telah meriwayatkan hadits yang sahih daripada Jarir bin Abdullah, berkata, "Kami menganggap bahwa berkumpul di rumah keluarga kematian dan keluarga tersebut menghidangkan makanan untuk menjamu para hadirin, adalah sama hukumnya seperti niyahah (meratapi mayat) yaitu haram." (Mughnil Muhtaj, juz1, hal 26) 6. Di dalam kitab Fiqh Hasyiyatul Qalyubi dinyatakan, "Syeikh ar-Ramli berkata, "Di antara bid'ah yang mungkarat (yang tidak dibenarkan agama), yang dibenci apabila diamalkan sebagaimana yang telah diterangkan di dalam kitab ar-Raudhah, yaitu apa-apa yang telah dilakukan oleh orang yang dinamakan "kifarah" dan hidangan makanan yang disediakan oleh tuan rumah kematian untuk jamuan orang yang berkumpul di rumahnya sesudah kematian, serta penyembelihan di tanah kubur." (Hasyiyatul Qalyubi, juz 1, hal 353) 7. Di dalam kitab Fiqh karangan imam Nawawi yaitu kitab al-Majmu' syarah Muhazab, menyebutkan, "Penyedian makanan yang dilakukan oleh keluarga kematian dan berkumpulnya orang yang ramai di rumahnya, adalah tidak ada nasnya sama sekali, yang jelasnya semua itu adalah bid'ah yang tidak disunatkan." (an-Nawawi, al-Majmu' syarah Muhazab, juz 5, hal 286) 8. Pengarang kitab I'anatut Talibin juga turut mengambil keterangan di dalam kitab al-Jamal syarah al-Minhaj yang berbunyi seperti berikut, "Dan di antara bid'ah mungkarat yang tidak disukai ialah sesuatu perkara yang sangat biasa diamalkan oleh individu yaitu majlis menyampaikan rasa duka cita (kenduri arwah), berkumpul dan membuat jamuan majlis untuk kematian pada hari keempat puluh, bahkan semua itu adalah haram."(I'anatut Talibin, juz 2, hal 145-146) 9. Selanjutnya, pengarang kitab tersebut juga mengambil lagi keterangan daripada kitab Tuhfatul Muhtaj syarah al-Minhaj yang berbunyi, "Sesuatu yang sangat dibiasakan oleh seseorang dengan menghidangkan makanan untuk mengundang orang ramai ke rumah keluarga kematian merupakan bid'ah yang dibenci sebab ada hadits yang telah diriwayatkan oleh Jarir yang berkata, "Kami (para sahabat nabi Sallallahu `alaihi wasallam) menganggap bahwa berkumpul di rumah keluarga kematian dan keluarga tersebut menghidangkan makanan untuk majlis itu adalah sama dengan hukum niyahah yaitu haram." (I'anatut Talibin, juz 2, hal 145-146) 10. Pengarang kitab tersebut mengambil lagi fatwa dari mufti mazhab Syafie, Ahmad Zaini bin Dahlan, "Dan tidak ada keraguan sedikit pun bahwa mencegah umat daripada perkara bid'ah mungkarat ini sama seperti halnya menghidupkan sunnah nabi Sallallahu `alaihi wasallam. Mematikan bid'ah seolah-olah membuka pintu kebaikan seluas-luasnya dan menutup pintu keburukan serapat-rapatnya karena orang lebih suka memaksa-maksa diri mereka berbuat hal-hal yang akan membawa kepada sesuatu yang haram." (I'anatut Talibin, juz 2, hal 145-146) 11. Dan di dalam kitab Fiqh Ala Mazahibil Arba'ah menyatakan, "Dan di antara bid'ah yang dibenci agama ialah sesuatu yang dibuat oleh individu yaitu menyembelih hewan-hewan di tanah kubur tempat mayat di tanam dan menyediakan hidangan makanan yang diperuntukkan bagi mereka yang datang bertakziah." (Abdurrahman al-Jaza'iri, al-Fiqhu Ala Mazahibil Arba'ah, juz 1, hal 539) Demikianlah di antara pendapat-pendapat para ulama Syafi'iyah berkenaan selamatan atau kenduri arwah. Mereka telah bersepakat bahwa amalan tersebut adalah bid'ah mungkarat atau bid'ah yang dibenci. Dasar hukum yang mereka ambil (mengikut kata sepakat atau ijma' para sahabat nabi Sallallahu `alaihi wasallam) ialah haram hukumnya mengamalkan amalan tersebut. Bukankah lebih baik jika tuan rumah kematian menggantikan kenduri arwah kepada satu amalan bersedekah kepada ahli faqir dan miskin? Sebabnya ialah, jika kenduri tersebut diniatkan untuk bersedekah makanan kepada orang yang menjamu hidangannya, kebanyakan orang yang hadir di dalam jamuan tersebut tentunya di kalangan orang yang berkemampuan dan sudah tentu sedekah tersebut kurang berarti bagi mereka atau tidak berarti sama sekali. Tambahan pula, jika amalan tersebut diniatkan sebagai amalan bersedekah, maka akan terjadilah satu amalan yang mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil karena amalan tersebut melibatkan dalam dua hal yaitu, ia diniatkan sebagai bersedekah yaitu amalan yang disukai agama dan dan dalam waktu yang sama, berkumpul di dalam satu majlis jamuan yang telah diadakan di rumah kematian adalah satu perkara yang amat dilarang oleh agama atau disebut haram.
0

#2 User is offline   humaira al-hamra 

  • Group: Members
  • Posts: 177
  • Joined: 13-January 08

Posted 27 January 2008 - 10:00 PM

Saya cuba memberikan sedikit respons, memandangkan perkara ini baru yg amat dibincangkan dlm sesi usrah yg saya ikuti minggu lepas. Apabila ditanya tntg persoalan ini, ustaz yg bertindak sbgi naqib usrah memberi jawapan yg mmbuatkan semua murid tersenyum sinis.. "Hukum tahlil? Apa lafaz tasbih?" "Subhanallah" "Tahmid?" "Alhamdulillah" "Takbir?" "Allahu Akbar" "Tahlil?" "La Ilaaha Illa ALLAH" "Tahlil kan zikir, hukumnya wajib.." Pelajar² tersenyum dan meminta penjelasan lebih lanjut: "Tahlil yg dibuat utk org mati la ustaz..." Begitu lah ceritanya, dan saya teruskan dgn respon saya.. Sebenarnya majlis kenduri arwah (istilah yg akan sy gunakan menggantikan istilah kenduri tahlil yg amat tdk sesuai) adalah tidak haram. Dalam majlis ini tdk terdapat pergaulan bebas antara lelaki dan wanita dan lain² ciri yg menjadikan sesuatu majlis itu haram. Bahkan, majlis ini dipenuhi dgn zikir. Majlis zikir adlh majlis yg dituntut oleh Rasulullah utk duduk di dalamnya. Namun, apa yg menjadikan majlis ini haram adlh KEWAJIPAN utk mengadaknnya dlm masyarakat Melayu kita, di samping ditetapkan hari khusus, 7 hari pertama, hari ke-14, hari ke-40, hari ke-100 dan sbginya yg saya pun tak tahu... skdr perkongsian, klu di Indonesia, kenduri ini diwajibkan diadakan pd hari ke-1000 kematian (wush, jenuh nk mengira!!) Hari² yg ditetapkan menjadikan majlis ini haram, krn kepercayaan tertentu berunsur mitos dan lagenda yg bercanggah dgn ajaran Islam. Tambahan pula, majlis yg "diwajibkan" secara budaya ini dikhuatiri menyusahkan keluarga si mati yg sememangnya dilanda musibah dgn kehilangan anggota keluarga. Majils ini seterusnya akan menjadi bebanan kpd keluarganya. Inilah faktornya. Selain itu, hanya tiga amalan yg menjanjikan pahala berterusan.. sedekah jariah, ilmu yg dimanfaatkan dan doa anak² yg soleh.. Doa, ibadah, zikir dan sgl amalan hasanah anak² yg soleh, tdk trdpt hijab pdnya, dan akan terus dikreditkan ke akaun pahala orang tuanya. Namun, zikir drpd orang lain, pahala hnya tertakluk pada niatnya. Klu pahala zikirnya diniatkan kpd si mati, ya, itu ok! So, utk tdk menjadikan majlis ini haram, jom, kita ubah trendnya.. 1) Tidak diadakan hanya apabila terdapat kematian 2) Tidak diadakan pada hari tertentu 3) Klu btol nk bg pahala utk si mati, pesan kat hadirin, niatkan pahal utk arwah!*grindance* FUh, panjang tol! Sorry erk.. Wallahu a'lam bi as-sowaab!
0

#3 User is offline   buluh 

  • Group: Members
  • Posts: 1,723
  • Joined: 20-December 07

Posted 28 January 2008 - 11:27 PM

Assalamualaikum Warahmatullah. Sekadar memberikan beberapa pandangan dari isu yang diutarakan ini. Secara peribadi saya merasakan bahawa isu ini sudah lama selesai dan tidak perlu dipanjangkan lagi pendebatannya. Namun semakin lama saya melihat semakin banyak masalah yang cuba ditimbulkan di forum ini bagi meragukan masyarakat dan orang awam. Di sini saya bawakan beberapa persoalan dan hujjah dari kedua-dua belah pihak bagi memberi kefahaman berkenaan kenduri tahlil atau keduri arwah itu seterusnya menolak dakwaan sesetengah pihak yang mengatakan kenduri tahlil atau arwah ini bidah dan berdosa/dilarang. Lihat dan kajilah perbahasan dan perbincangan ini secara ilmiah dengan hati yang terbuka: Soalan 01: Apakah sebenarnya tujuan bertahlil dan kenduri arwah tu diadakan? Adakah untuk yang hidup atau untuk yang sudah meninggal dunia? Dengan berdalilkan Firman Allah Taala bermaksud: Dan bahawasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (Surah an-Najm: ayat 39). Jawapan 01: Sebilangan besar ulama-ulama terdahulu yang mengerti akan penafsiran ayat al-Quran di atas (Surah an-Najm: ayat 39) tetapi mereka tetap mengatakan sampai kebajikan seseorang di dunia kepada si mati. Sudah pastilah kealiman mereka melebihi kita yang serba dhoif ini. Di antaranya: 01) Dari Syeikh al-Islam Ibnu Taimiah. Dalam kitab: Kutub War Rasaail Wal Fatawa Ibnu Taimiyyah Fil Fiqh. Berkata: Adapun masalah bacaan sedekah dan selain keduanya daripada segala amal kebajikan, maka tidak berbantah di kalangan ulama Ahli Sunnah Wal Jamaah pada sampainya pahala segala ibadat berupa harta benda seperti sedekah dan memerdekakan hamba, sebagaimana sampai juga kepada mayat, sampai doa padanya, istighfar (memohonkan keampunan untuknya), solat jenazah dan doa di sisi kuburnya. Telah berbantahan (khilaf) pada masalah ibadat amalan badaniah seperti puasa, solat dan bacaan. Yang sebetulnya - bahawa kesemuanya sampai kepada si mati (mayat). Adapun sebahagian mereka yang berhujjah (mengatakan tidak sampai pahala kepada mayat) dengan Firman Allah Taala pada Surah an-Najm ayat 39 maka dijawab kepada mereka: Sesungguhnya telah sabit di dalam sunnah (hadith) yang mutawatir dan ijmak ummah bahawasanya sampai (kepada mayat). Ditanya: Berkenaan bacaan (al-Quran) yang mengirim ahli mayat (keluarga si mati) kepada mayat seperti tasbih, tahmid, tahlil dan takbir apabila mereka menghadiahkannya kepada mayat: Adakah sampai pahalanya kepada mayat atau tidak? Dijawabnya: Sampai kepada mayat bacaan ahli (keluarganya), samaada tasbih, takbir, dan seluruh zikir mereka yang dibuat kerana Allah Taala, apabila mereka menghadiahkan kepada mayat nescaya sampai ia. * Syeikh al-Islam Ibnu Taimiah tetap mengatakan sampai pahala kepada mayat (si mati) seperti penerangan di atas. Begitu juga berkata Syeikh Ibnu Qayyim dalam kitabnya ar-Ruh turut sama mengatakan sampai pahala kepada si mati. Sekiranya anda berpegang dengan syeikh-syeikh anda (ditujukan kepada yang mengatakan pahala kenduri tahlil atau arwah tidak sampai) maka adakah anda berpegang juga dalam fatwanya ini??? Fikirkanlah... 02) Berkata Syeikh Ibnu Rusyhd dalam kitabnya Nawazil: Pertanyaan tentang ayat 39 dari Surah An-Najm. Beliau menjawab: Jika membaca seseorang lelaki dan menghadiahkan pahala bacaannya kepada orang mati, nescaya harus demikian itu dan hasil (dapat) bagi si mati pahala tersebut. Soalan 02: Adapun bacaan al-Quran (yang pahalanya dikirimkan kepada mayat) maka pendapat yang masyhur dalam mazhab Shafie ialah amalan tersebut tidak akan sampai kepada mayat. Mereka (dari pengikut-pengikut Mazhab Shafie) berdalilkan al-Quran pada ayat 39 dari Surah an-Najm. Jawapan 02: Adapun sebelum kita bersandar dengan hujah-hujah Mazhab Shafie tersebut, sepatutnya kita perlu belajar dan memahami ilmu-ilmu mazhab tersebut terlebih dahulu. Hal ini kerana banyak kaedah-kaedah dan istilah-istilah untuk setiap mazhab adalah berbeza. Kebanyakkan orang hanya bertaqlid sahaja dengan kenyataan-kenyataan tertentu samaada oleh seseorang individu ataupun media. Mereka terlalu taksub dengan seseorang tanpa meneliti dan mengkaji hujjah-hujjah secara ilmiah. Mereka berkata kalam Mazhab Shafie: maka pendapat yang masyhur dalam Mazhab Shafie ialah amalan tersebut tidak akan sampai kepada mayat. Maka pendapat yang masyhur (qaul masyhur) ialah yang mengibaratkan oleh pengarang (Imam Nawawi) dengannya bagi tujuan memberitahu bahawa ada kesamaran pertentangan sesuatu pendapat tersebut. Maka berlakulah pertarjihan pendapat oleh pengarang (Imam Nawawi). Qaul masyhur ini telah diistilahkan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Minhaj dan telah disyarahkan oleh Syeikh Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabnya Tuhfah. Qaul masyhur adalah satu iatilah yang dipopularkan oleh Imam Nawawi dan para mujtahid tarjih Mazhab Shafie dan ia bukannya istilah Imam Shafie sendiri. Di dalam kitab Majmuk Kutubis Sabah al-Mufidah mengatakan: Dan sesungguhnya telah menyelidiki dan membahas fatwa-fatwa kedua-dua Syeikh al-Mazhab (Imam Rafaie dan Imam Nawawi) oleh mereka (para ulama) yang kemudian dan mereka telah menerangkan yang mana muktamad dengan yang tidak muktamad menurut perkiraan (penilaian) mereka. Maksudnya ialah bahawa pendapat atau pentarjihan yang telah dilakukan oleh kedua-dua orang Syeikh al-Mazhab ini masih boleh dinilai dan dikaji semula dan begitu juga terhadap qaul-qaul masyhur yang diriwayatkan daripada Imam Shafie. Maka pendapat Imam Shafie yang mengatakan tidak samapi pahala itu bukanlah muktamad untuk diwartakan sebagai fatwa Mazhab Shafie. Dan inilah kata-kata Imam Shafie: Dan aku suka jikalau dibacakan al-Quran di sisi kubur dan didoakan terhadap mayat. (Dalam kitab Makrifatus Sunan karanagan oleh Imam al-Baihaqi) Soalan 03: Dalam sebuah al-Hadis telah bersabda Nabi Muhammad S.A.W. bermaksud: Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah segala amal usahanya kecuali tiga perkara daripada amalnya, sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak (lelaki atau perempuan) soleh yang berdoa untuk simati. (Riwayat Muslim). Jawapan 03: Imam Nawawi berkata dalam kitabnya Riadhus Solihin: Berkata Imam Shafie: Disunatkan bahawa dibacakan di sisinya (mayat) sesuatu daripada al Quran dan jika mereka mengkhatam seluruh al-Quran maka itu adalah lebih baik. Berkata Imam Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar: Mengenai sesuatu yang bermanafaat bagi si mati. Para ulama telah sepakat bahawa doa bagi orang mati bisa bermanfaat bagi mereka dan sampai pahalanya kepada mereka. Di antara hujjah mereka adalah dengan firman Allah Taala: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berkata: Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman. Berkata Syeikh Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabnya Fatwa al-Kubra: Adalah ulama mutaakhirin berijtihad, sampai bacaan kepada mayat secara pentafsilan (penghuraian/ penjelasan) yang ditaqrirkan (dibahas dalil dan kaedahnya) di tempatnya (di tempat perbahasannya). Dan kata-kata Imam Shafie pada bacaan diiringi doa selepasnya, ini adalah sampai pahalanya kepada mayat. Maka tiada bernafi-nafian (tidak bertentangan perkataan Imam Shafie yang terdahulu yang mengatakan tak sampai dengan yang akhir ini). Imam Ramli berkata dalam kitabnya Nihayah Syarah al-Minhaj: Bahawasanya berdoa dengan sampainya bacaan untuk si mati adalah diterima dengan putus (tiada iktilaf). Syeikh Sulaiman Bujairimi dalam kitabnya Iqna berkata: Berkata Imam SayutiI: Sesungguhnya telah menaqalkan oleh Al-Hafiz Imam as-Sayuti bahawa jumhur salaf dan para imam yang tiga, menjalani atas sampai bacaan kepada mayat tetapi telah menyebut al-Qorafi bahawa Mazhab Maliki (berkata) tidak sampai. * Kebanyakan ulama-ulama muktabar yang dinyatakan ini adalah dari Mazhab Shafie. Soalan 04: Pendapat ulama terdahulu berkaitan kenduri arwah ini: Ya, apa-apa yang dilakukan oleh orang iaitu berkumpul di rumah keluarga mayat dan dihidangkan makanan untuk perkumpulan itu, ia adalah termasuk bid'ah mungkarat (bid'ah yang diengkari agama). Bagi orang yang membanterasnya akan diberi pahala. (Kitab Lanatut Talibin Syarah Fathul Mu'in) Jawapan 04: Sebenarnya petikan di atas adalah jawapan Syeikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (bekas Mufti Mekah dan beliau dari Mazhab Shafie) yang dimuatkan dalam kitab Lanatut Talibin. Sebenarnya petikan di atas tidak lengkap. Mereka cuma menyatakan sebahagiannya sahaja. Pengarang kitab Lanatul Talibin ini iaitu Syeikh Sayyid Abu Bakar mengatakan: Dan makruh bagi ahli keluarga si mati duduk berkumpul untuk menerima takziah dan menyediakan makanan yang dikerumuni manusia berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad daripada Jarir bin Abdullah yang berkata: Kami mengira sesuatu perhimpunan pada keluarga si mati dan berbuat makanan selepas dikuburkan mayat sebagai sebahagian daripada niyahah (ratapan). Petikan penuhnya berbunyi begini: Syeikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan telah ditanya: Apakah fatwa para mufti yang mulia di Tanah Haram ini tentang adat kebiasaan khusus yang dilakukan manusia di sebahagian negeri di mana apabila seseorang itu berpindah ke Negeri Pembalasan (maninggal dunia) serta hadir para kenalannya, jirannya yang ingin bertakziah, telah jadi adat kebiasaan bahawa mereka ini menunggu makanan. Dan adalah besar malunya kepada keluarga si mati yang terbebean dengan bebanan yang besar (sekiranya gagal menyediakan makanan), dan terpaksa menyediakan pelbagai jenis hidangan, dan kehadiran mereka itu mendatangkan kesusahan yang besar. Dan jikalau Ketua Para Hakim (iaitu Qadhi atau pihak yang berkuasa) yang prihatin terhadap rakyat melarang perkara ini agar mereka kembali berpegang dengan sunnah yang tinggi, adakah si penguasa akan mendapat pahala? Syeikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menjawab: Ya, apa yang dilakukan manusia dengan berkumpul di rumah si mati dan dihidangkan makanan (bukan sekadar berkumpul dan dihidangkan makanan sahaja) adalah bidaah yang mungkar, yang diberi pahala (kepada) pemerintah yang melarangnya. Berkata Syeikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan lagi dalam kitab Tuhfah Muhtaj Syarah Minhaj oleh Syeikh Ibnu Hajar al-Haitami: Dan apa yang teradat oleh keluarga si mati menyediakan makanan untuk menjemput manusia makan adalah suatu bidah makruh, begitu juga menyambut jemputan seperti itu kerana telah sah suatu hadith daripada Jarir R.A.: Kami mengira sesuatu perhimpunan pada keluarga si mati dan berbuat makanan selepas dikuburkan mayat sebagai sebahagian daripada niyahah (ratapan). Dan aspek persamaan dengan niyahah itu adalah kerana terdapatnya kesusahan urusan kerana kesedihan. *Adapun memanggil orang pada majlis kenduri arwah atau tahlil adalah dengan hati yang rela bukannya terpaksa. Soalan 05: Berkata Imam Shafie dalam kitabnya al-Umm: Aku tidak sukakan mat'am iaitu berkumpul (di rumah keluarga mayat) meskipun di situ tiada tangisan kerana hal tersebut malah akan menimbulkan kesedihan. Jawapan 05: Ayat yang sebenar dalam kitab itu adalah: Aku tidak sukakan ma'tam (bukan mat'am) iaitu berkumpul meskipun di situ tiada tangisan kerana hal tersebut malah akan menimbulkan kesedihan. Mat'am bermaksud tempat makan dan dalam bahasa mudahnya restauran. Adakah betul maksudnya Imam Shafie berkata: Aku tidak sukakan restauran??? Fikirkanlah... Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud: Cukup besar dustanya orang yang memberitakan segala apa yang didengarnya (tanpa usul periksa). (Riwayat Muslim). Ma'tam pula bermaksud: Setiap perhimpunan lelaki dan perempuan sama ada untuk sesuatu kegembiraan atau kedukaan. Sebahagian ahli nahu sebagaimana yang dikatakan oleh Imam al-Jauhari, Abu Atha al-Sindi, Ibnu Bari dan lain-lain dalam sebuah kamus Arab muktabar iaitu Lisan al-Arab telah mengkhususkan penggunaan istilah ini (iaitu ma'tam adalah) untuk perhimpunan perempuan ada kematian yang padanya terdapat niyahah (iaitu ratapan yang berlebih-lebihan). Niyahah pula pula adalah ratapan yang berlebih-lebihan sehingga meraung dan menarik-narik rambut sebagaimana yang popular pada zaman jahilliyyah. Imam Nawawi dalam kitab Al Majmuk Syarah al-Muhazzab berkata: Adapun berhimpun atau berduduk-dudukan (al-julus) untuk mengucapkan takziah maka telah diriwayatkan daripada Imam Shafie dan pengarang kitab al-Muhazzab dan seluruh pendokong Shafiiyyah bahawa ia makruh. Imam Ghazali dalam kitab al-Takliq meriwayatkan bahawa yang dimaksudkan (al-julus) oleh Imam Shafie adalah: Berhimpun keluarga si mati di dalam rumah dengan maksud (menunggu) sesiapa yang ingin mengucapkan takziah. Soalan 06: Adalah keluarga kematian yang menyediakan makanan dan orang ramai berkumpul di rumahnya untuk menjamu merupakan bidah yang tidak disunatkan dan di dalam hal ini Imam Ahmad telah meriwayatkan hadith yang sahih daripada Jarir bin Abdullah berkata: Kami menganggap bahawa berkumpul di rumah keluarga kematian dan keluarga tersebut menghidangkan makanan untuk menjamu para hadirin adalah sama hukumnya seperti niyahah (meratapi mayat) iaitu haram. (Kitab Mughnil Muhtaj) Jawapan 06: Banyak pihak telah membuat semakan semula. Adapun pada kitab dan cetakan asalnya tiada perkataan haram pada akhir ayat ini. KESIMPULAN: Setelah meneliti segala hujjah-hujjah di atas maka dikatakan di sini sudah pastilah berlaku di sana pendustaan terhadap ilmu dan pendustaan kepada ulama-ulama muktabar kita. Sesungguhnya kenduri arwah atau tahlil adalah dibolehkan dan pahalanya adalah sampai kepada si mati. Saya berharap tiada lagi perbahasan atau perbincangan yang serupa ini oleh pihak-pihak yang cuba meragukan amalan-amalan orang Islam. Dan ada yang lebih teruk lagi mengatakan bidah dan berdosa jika mengadakan kenduri tahlil atau arwah ini. Adapun apa yang terdapat di dalam kenduri tahlil atau arwah itu hanyalah doa, istigfar, sedekah, membaca al-Quran, berzikir dll. Firman Allah Taala bermaksud: Orang-orang yang mengingati Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. (Surah ali-Imran: ayat 191). Berikut beberapa garis panduan dalam melaksanakan kenduri tahlil atau arwah: - Segala perbelanjaan berkaitan dengan pengurusan jenazah si mati telah selesai. - Hutang si mati telah dijelaskan semua sekali. - Tidak menggunakan harta peninggalan si mati. - Tidak menetapkan bahawa mesti dibuat pada hari-hari atau bilangan-bilangan tertentu. Segala kesalahan dan kecacatan dari penulisan ini harap dapat diperbetulkan segera oleh sahabat-sahabat sekalian. Wallahualam...
0

#4 User is offline   bdkmacho 

  • Group: Members
  • Posts: 192
  • Joined: 29-January 08

Posted 29 January 2008 - 06:15 PM

Salam... Jawapan n hujah buluh lbh meyakinkn sy...selesai masalah...sy setuju...spttnya perkara ni dh la selesai la...xpyh la nk bidah2 org xtentu psl...cermin diri sendiri dl...sy xsetuju dgn muslimz87...klu ikut sy perkara2 cmni xpyh jwp...buang ms je...org2 wahabi ni memang asyik putar fakta je bg org awam pening kpl...
0

#5 User is offline   abdulkadir 

  • Group: Members
  • Posts: 519
  • Joined: 30-January 08

Posted 01 February 2008 - 03:37 PM

Assalamualaikum.. Sekadar tambahan. Artikel (yg dibawakan dlm post 1) bila ditulis oleh seorang yang bukan Faqih apatah lagi Faqih Mazhab Syafie, pastu cuba naqalkan kalam ulamak Syafi'iyyah, maka tersasarlah maknanya. Cuba tuan-tuan fikir mudah, para tok guru, para masyaikh di rantau Arab hinggalah ke Nusantara, yg mengajar kitab-kitab yg disebutkan oleh penulis artikel tersebut, mereka ni sendiri membuat tahlil dan kenduri arwah. Mereka bukan rujuk2 satu dua muka surat kitab tu, tapi mengajar kitab2 tu berpuluh malah beratus kali khatam. Agak2 kita nak percaya penulis artikel tu ke atau ribuan ulamak terdahulu yang nyata ikhlas lagi terlalu alim? Walhasil jawapan daripada Saudara Buluh cukup menenangkan dan menerangkan fitnah, putar belit, khianat ilmiah yang dibawa oleh penulis artikel tersebut. Jelas kenduri tahlil tak pernah haram dalam Mazhab Syafie bahkan mengikut pendapat majoriti ulamak. Kita takkan mengatakan hanya kerana fahaman Wahabi tu jadi sesat. Tapi metod membid'ah dan menimbulkan isu-isu picisan dalam masyarakat ni yg kita risau merebak dalam dakwah Islam, hingga mengenepikan kita dari isu-isu yang lebih besar dan patut kita tumpukan bersama.
0

#6 User is offline   rembulan 

  • Group: Members
  • Posts: 234
  • Joined: 29-April 08

Posted 04 August 2008 - 01:32 AM

Kenduri Arwah Mulla Ali Qari di dalam syarah kitab hadis Misykat (bab Mukjizat, jilid 5, m/s 482) mensabitkan hadis ‘Asim bin Kulaib bahawa Nabi s.a.w menerima jemputan daripada isteri simati serta memakan kenduri itu. Beliau menegaskan: “ Hadis ini melalui zahir lafaznya, menolak pendapat yang telah dihuraikan oleh Ashab Mazhab kami (pengikut-pengikut mazhab hanafi) iaitu: 1) Makruh mengadakan kenduri pada hari pertama, ketiga atau selepas seminggu kematian seperti yang dinyatakan di dalam kitab Bazzaziyah. 2) Tersebut di dalam kitab Khulasah bahawa tiada harus mengambil tetamu semasa tiga hari kematian. Az-Zaila’ie menyatakan: “ Tiada mengapa (diharuskan) keluarga simati menanti-nanti orang ramai kerana musibah kematian tanpa membuat perkara yang diharamkan seperti diletakkan hamparan-hamparan dan diadakan kenduri daripada pihak keluarga simati. Ibnu Himmam berkata: “ Dimakruhkan keluarga simati mengambil tetamu.” “ Sekalian ulama tersebut berhujah pendapat masing-masing dengan alasan bahawa kenduri itu disyarakan pada perkara kegembiraan bukannya perkara yang tidak elok (kematian). Kesemuanya itu adalah bidaah yang dicela. Imam Ahmad dan Ibnu Hibban meriwayatkan dengan sanad yang sahih daripada Jarir bin Abdullah berkata: Adalah kami (golongan sahabat) mengira bahawa berhimpun kepada keluarga simati dan mereka itu (keluarga simati) menyediakan jamuan termasuk di dalam ‘Niyahah’ (meratapi serta menyebut-nyebut kebaikan mayat).” Mulla Ali Qari mentakwilkan fatwa-fatwa ulama mazhab hanafi tersebut dengan beberapa sebab terjadinya hukum itu. Beliau menghuraikan maksud sebenar fatwa-fatwa tersebut yang bersandarkan kepada hadis Jabir yang melarang keluarga simati mengadakan jamuan supaya tidak bercanggah dengan hadis ‘Asim bin Kulaib yang menyatakan bahawa Nabi memakan kenduri keluarga simati, beliau berkata: “ Sayugia (sepatutnya) diselaraskan fatwa-fatwa mereka dengan suatu cabangan huraian yang tertentu, iaitu:- 1) Berhimpun bersama keluarga simati itu menyebabkan mereka (keluarga simati) terasa malu lalu terpaksa mengadakan kenduri untuk orang ramai. 2) Atau dimaksudkan bahawa perbelanjaan kenduri diambil daripada harta simati sedangkan salah seorang pewarisnya adalah kanak-kanak (iaitu terdiri daripada mereka yang tidak dibenarkan oleh syara untuk menguruskan harta peninggalan) atau tidak diketahui dimana pewaris itu berada ataupun tidak diketahui persetujuan pewaris terhadap perbelanjaan kenduri yang diambil daripada harta simati. 3) Atau kenduri tersebut, bukan daripada harta peribadi (selain pewaris), lagi perbelanjaan kenduri diambil daripada harta simati sebelum dibahagikan kepada pewaris dan seumpamanya (Ini kerana diharuskan keluarga simati mengadakan kenduri apabila pembelanjaannya daripada harta orang lain dan dilarang kenduri daripada harta simati sebelum dibahagikan kepada pewaris) Beliau menambah lagi: “ Di atas huraian inilah, difahami maksud sebenar pendapat Qadi Khan (ulama hanafi) yang berfatwa: Makruh keluarga simati mengambil tetamu di hari musibah kematian kerana ianya hari dukacita. Maka tidak layak dengannya diadakan kenduri sepertimana diadakan pada hari-hari kegembiraan. Jika keluarga simati mengadakan jamuan untuk orang miskin maka ianya perbuatan yang elok.” Huraian Mulla Ali Qari sebagai ulama yang bermazhab hanafi ini bersamaan dengan huraian para ulama yang bermazhab syafie tentang kenduri yang diadakan oleh keluarga simati bagaimanakah ia menjadi haram atau makruh. Ulama yang mengikuti Imam Syafie, menghuraikan masalah ini dengan berdasarkan penelitian mereka terhadap penafsiran Imam Syafie sendiri dimana pada suatu ketika beliau menghukumkan makruh kenduri yang diadakan oleh keluarga simati jika tiada bertujuan meratapi (Niyahah) dan membilang-bilang keelokan simati. Bukanlah setiap kenduri yang diadakan oleh mereka adalah haram semata-mata. Oleh itu, tiada kemusykilan berkenaan hadis ‘Asim bin Kulaib, sama ada Nabi s.a.w memakan jamuan yang disediakan oleh isteri simati ataupun disediakan oleh perempuan lain seperti yang cuba dikelirukan oleh sesetengah pihak. Kenduri yang diharamkan Diharamkan kenduri yang diadakan oleh keluarga simati atau jamuan yang disediakan untuk mereka bertujuan meratapi dan membilang-bilang kebaikan simati (Niyahah). Pengharaman kenduri tersebut adalah kerana ‘Niyahah’ itu sendiri diharamkan oleh jumhur ulama yang bersandarkan dengan hadis-hadis sahih. Di antaranya:- " وروى عبد الله بن مسعود رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم : ليس منا من لطم الخدود وشق الجيوب ودعا بدعوى الجاهلية " Ertinya: “ Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan daripada Nabi s.a.w bersabda: Bukanlah daripada kalangan kami, mereka yang menampar-nampar pipinya (ketika meratapi kematian), mencarik-carikan leher baju atau menyebut-nyebut (ketika dukacita) dengan sebutan yang diucapkan oleh orang-orang jahiliyah.” (Bukhari, Muslim dan lain-lain) Imam Nawawi menjelaskan di dalam kitab Majmuknya (bab jenazah, jilid 5, m/s 272): “ Adapun membilang-bilang keelokan simati (Nadbu), meninggikan suara kerana meratapi (Niyahah), menampar-nampar pipi, mencarik-carikan leher baju, melukakan wajah, melepas serta mengusutkan rambut atau mengucapkan ucapan celaka dan binasa, kesemuanya itu diharamkan dengan persetujuan pengikut-pengikut Syafie serta jumhur ulama menyatakan haram perkara tersebut.” Kerana inilah, Imam Nawawi berkata di dalam Minhajnya (lihat Syarah Mahalli, jilid 1: m/s 353) : " ( وتحرم تهيئته للنائحات والله أعلم) لأنه اعانة على معصية " Ertinya: “ (Haram menyediakan jamuan makanan kepada segala perempuan yang meratapi dan menyebut-nyebutkan keelokan simati, wallahu ‘aalam). Ini adalah kerana menyediakan jamuan tersebut bertolong-tolongan di atas perkara maksiat.” Keterangan Hukum haram kenduri daripada keluarga simati apabila diadakan untuk tujuan perkara-perkara yang dilarang oleh syara berkenaan dengan kematian seperti bertujuan meratapi dan membilang-bilang keelokan simati dan lain-lain sepertimana yang diterangkan oleh Mulla Ali Qari di atas. Tinggal lagi satu sebab yang menjadikan haram kenduri tersebut seperti yang terdapat di dalam kitab-kitab muktabar mazhab syafie iaitu:- Perbelanjaan jamuan diambil daripada harta peninggalan sedangkan simati mempunyai hutang belum berbayar (sila rujuk buku kami yang bertajuk ‘Berkuburnya Kesangsian…’). Bukannya semata-mata diadakan jamuan oleh keluarga simati itu haram hukumnya. Kenduri yang dimakruhkan Kenduri yang diadakan oleh keluarga simati dimakruhkan apabila disediakan bagi orang ramai yang datang untuk mengucapkan takziah. Hukum ini difahami daripada perkataan Imam Syafie di dalam kitab Ummnya: " وأكره المآتم وهي الجماعة وان لم يكن لهم بكاء فان ذلك يجدد الحزن وكلف المؤنة...." Ertinya: “ Aku menghukumkan makruh beberapa jamuan iaitu perhimpunan, sekalipun ketiadaan tangisi (meratapi dan membilang-bilang kebaikan simati- ‘Niyahah’ & ‘Nadbu). Ini adalah disebabkan jamuan tersebut memperbaharui (mengingati kembali) dukacita kematian dan memaksa-maksa di atas mengeluarkan pembelanjaan….” Imam Nawawi menerangkan perkataan Imam Agung ini bahawa dimakruhkan bagi keluarga simati menanti-nanti orang ramai datang mengucapkan takziah dan dimakruhkan juga mengadakan jamuan untuk mereka. Beliau menjelaskan di dalam kitab Majmuknya (bab jenazah, jilid 5, m/s 270-271): “ Adapun keluarga simati menanti-nanti kedatangan orang ramai untuk mengucapkan takziah maka terdapat nas perkataan Imam Syafie (seperti yang termaktub di atas), nas pengarang (As-Syirazi) dan nas sekalian pengikut Imam Syafie yang menyatakan makruh hukumnya….” Ibnu Hajar Al-Haitami menyatakan di dalam kitab Tuhfahnya (bab jenazah, jilid 3, m/s 227-228) hukum makruh kenduri yang diadakan oleh keluarga simati dengan bersandarkan hadis Jarir yang berbunyi: " كنا نعد الاجتماع الى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة " Ertinya: “ Adalah kami (para sahabat) mengira bahawa berhimpun kepada keluarga simati dan mereka itu (keluarga simati) menyediakan jamuan selepas dikebumikannya, termasuk di dalam ‘Niyahah’ (meratapi serta menyebut-nyebut kebaikan mayat).” Beliau menjelaskan: “ Sebab dikira mengadakan jamuan oleh keluarga simati termasuk dalam ‘Niyahah’ kerana ada unsur terlampau mengambil berat soal dukacita kematian. Kerana inilah, dimakruhkan bagi mereka yang sengaja berhimpun bertujuan menunggu-nunggu kedatangan orang ramai untuk mengucap takziah…” Terdapat beberapa sebab lagi yang menjadikan makruh kenduri yang diadakan oleh keluarga simati seperti yang dinyatakan oleh Al-Allamah Ali Syibramalisi (lihat hasyiah Syarwani, jilid 3, m/s 227): “ Diantara hukum makruh kenduri yang diadakan oleh keluarga simati ialah kenduri yang masyur dikenali dengan ‘Wahsyah’ (jamuan yang diadakan bertujuan menghilangkan rasa sunyi dan dukacita disebabkan kematian) yang diketahui oleh masyarakat (pada zaman itu di kalangan masyarakat Arab).” Tinggal lagi satu sebab yang menjadikan makruh kenduri tersebut sebagaimana yang terdapat di dalam kitab-kitab muktabar ulama mazhab syafie ialah apabila diadakan jamuan tanpa apa-apa tujuan atau kerana kematian semata-mata mengikut kebiasaan sesuatu tempat pada hari-hari ditentukan tanpa disertai dengan meratapi dan membilang-bilang kebaikan simati.(Sila rujuk buku kami yang bertajuk ‘Berkuburnya Kesangsian….’) Kenduri yang diharuskan Ahli keluarga simati menyediakan jamuan bagi orang ramai yang datang bertahlil dan membaca Al-Quran untuk dihadiahkan pahalanya kepada simati adalah diharuskan. Tujuan jamuan ini hanyalah mengalakkan orang ramai datang serta membalas budi mereka kerana menolong simati dengan menghadiahkan pahala zikir dan tilawah Al-Quran kepadanya. Justeru itu, jamuan sebegini tiada diharamkan atau dimakruhkan kerana tidak bertujuan mengingati kembali dukacita kematian dan tiada unsur mengambil berat soal dukacita. Perlu mengetahui bahawa setiap hukum yang diputuskan dengan haram atau makruh berdasarkan sebab(العلة) yang mencetuskan hukum tersebut. Contohnya seperti sebab diharamkan kenduri daripada keluarga simati yang bertujuan meratapi dan membilang-bilang kebaikan simati ialah ‘Niyahah’ (meninggikan suara dengan meratapi) dan ‘Nudbah’ (membilang-bilang keelokan simati) yang diharamkan oleh syara. Sebab dimakruhkan kenduri tersebut pula ialah ada unsur mengingati kembali dukacita kematian dan unsur mengambil berat soal dukacita. Maka jamuan yang diadakan bagi orang ramai yang bertahlil dan bertilawah itu tiada unsur-unsur tersebut untuk dihukumkan sebagai makruh sebagaimana yang terdapat di dalam kenduri bagi orang ramai yang datang mengucapkan takziah. Jauh sekali untuk dihukumkan dengan haram kerana tiada terdapat Niyahah atau Nudbah. Kaedah di dalam ilmu usul fiqh ada menyebut: " ألعلة تدور مع المعلول وجودا وعدما " Ertinya: “ Sebab (‘illat) terjadinya sesuatu hukum adalah selaras dengan masalah yang dihukumkan dari segi wujudnya sebab tersebut ataupun tiada (yakni dihukumkan haram, makruh dan sebagainya apabila ada sebab atau ‘illat hukum terbabit. Jika tiada sebab tersebut maka tidak dihukumkan dengan sedemikian).” Kenapakah berlainan kenduri keluarga simati untuk orang ramai yang datang bertahlil dan bertilawah dengan kenduri bagi para hadirin untuk mengucapkan takziah? Cuba memahami dahulu takrif takziah iaitu sebagaimana yang terdapat di dalam kitab Tuhfah Ibnu Hajar Haitami (bab jenazah, jilid 3, m/s 193): “ Takziah itu ialah memberitahu supaya bersabar menghadapi musibah kematian serta menanggung kesabaran untuk memperolehi pahala, memberi peringatan tentang dosa keluh resah (dengan takdir Allah) atau berdoa untuk mayat muslim serta berdoa untuk keluarga simati yang ditimpa musibah kematian supaya digantikan musibah kematian dengan pahala ganjaran.” Lantaran takziah mengandungi perkara tesebut, apabila keluarga simati menyediakan jamuan untuk para hadirin yang datang untuk memberi takziah maka seolah-olah keluarga simati mengambil serius tentang soal dukacita dan memperbaharuinya. Ini disebabkan mereka seakan-akan menghendaki rasa simpati daripada orang ramai di atas dukacita yang mereka hadapi iaitu musibah kematian lalu mereka mengharap-harapkan serta ternanti-nanti orang ramai menyabarkan mereka atau berdoa kepada mereka. Sama ada menunggu-nunggu tersebut dengan semata-mata berhimpun mahupun dengan diadakan kenduri maka kedua-duanya adalah dimakruhkan. Berlainan sekali dengan kenduri arwah untuk mereka yang datang bertahlil serta betilawah untuk dihadiahkan kepada simati, semata-mata bertujuan menggalakan, membalas budi dan menghubungkan silaturahim dengan mereka. Ianya tiada unsur memperbaharui dan mengambil berat soal dukacita. Pahala Bacaan Yang Dihadiahkan Kepada Simati Berlaku perbezaan pendapat di kalangan para ulama tentang adakah sampai kepada mayat pahala bacaan Al-Quran atau zikir kepadanya ataupun tidak. Di dalam mazhab syafie terdapat dua pendapat mengenainya:- Pendapat yang pertama adalah pendapat sebahagian pengikut Imam Syafie yang mengatakan sampai pahala bacaan kepada orang yang telah mati. Pendapat yang kedua pula ialah sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Nawawi di dalam Syarah Muslim (kitab zakat, bab sampai pahala sedekah kepada simati): “ Pendapat yang masyhur di dalam mazhab syafie bahawa pahala bacaan Al-Quran tidak sampai kepada orang telah meninggal.” Pendapat yang pertama adalah pendapat yang muktamad di dalam mazhab syafie manakala pendapat yang kedua adalah pendapat yang lemah sebagaimana yang diterangkan oleh Syeikh Bujairimi di dalam Hasyiah Fathul Wahhab (kitab wasiat, فصل في أحكام معنوية للموصى به... , jilid 3, m/s 286). Faktor yang menyebabkan pendapat yang masyhur di dalam mazhab syafie tersebut adalah lemah dan tidak kuat ialah bahawa ijmak para ulama yang menyatakan pahala sedekah dan doa kepada simati itu sampai kepadanya. Ini kerana makna mendapat manfaat simati dengan sedekah dan doa daripada orang yang hidup adalah sebagaimana yang diterangkan oleh Syeikh Ramli di dalam kitab Nihayah (kitab wasiat, jilid 6, m/s 92) : “ Makna simati mendapat manfaat dengan sedekah ialah diletakkan kedudukan simati pada tempat orang bersedekah (yakni seolah-olah dia bersedekah)…Imam Syafie berkata: “ Keluasan rahmat Allah Taala ialah bahawa Dia memberi pahala kepada orang yang bersedekah juga.”….Makna simati mendapat manfaat dengan doa serta mendapat pahalanya ialah sampai perkara yang didoakan untuknya, apabila diperkenankan doa itu. Diperkenankan doa tersebut adalah semata-mata kurniaan Allah Taala….” Imam Nawawi menerangkan di dalam kitab Raudah (kitab jenazah, jilid 2, m/s 58): “…..Maka berdoa selepas saja membaca Al-Quran adalah terlebih hampir diperkenankan dan doa itu memberi manfaat kepada simati (secara ijmak ulama).” Ibnu Hajar Al-Haitami menjelaskan di dalam Fatwa Kubranya (bab wasiat, jilid 4, m/s 20): “ Adapun berdoa untuk disampaikan seumpama pahala kepada orang lain (simati) maka tiada mengapa kerana ianya terdiri daripada perbuatan berdoa bagi saudara muslim tanpa kehadirannya (tanpa pengetahuannya). Banyak hadis-hadis yang menunjukkan di atas dimakbulkan doa ini (doa bagi saudara muslim tanpa pengetahuannya) dan selainnya. Lebih-lebih lagi, tidak terdapat larangan padanya maka tiada ada satupun alasan untuk menegahannya.” Lantaran itu, pendapat yang mengatakan secara umum bahawa tiada sampai pahala bacaan kepada simati dikira sebagai lemah. Ini jelas, apabila disedekahkan pahala bacaan atau berdoa supaya disampaikan pahala itu kepadanya necaya dia memperolehi pahala tersebut kerana sampainya pahala sedekah dan doa untuk simati adalah merupakan ijmak di kalangan ulama. Oleh kerana inilah, kebanyakan ulama mazhab syafie telah mentakwil serta menerangkan maksud sebenar pendapat yang kedua yang dinukilkan oleh Imam Nawawi itu, di mana mereka menjelaskan bahawa tidak sampainya pahala bacaan Al-Quran, apabila dibacakan bukan di hadapan mayat atau sipembaca tidak meniatkan pahala bacaannya kepada simati serta tidak mendoakan supaya pahala itu disampaikan kepadanya (lihat Tuhfah-kitab wasiat, jilid 7, m/s 87, Nihayah-kitab wasiat, jilid 6, m/s 93 dan lain-lain). Pendapat pertama yang menyatakan bahawa sampai hadiah pahala bacaan kepada orang yang telah meninggal dunia terbahagi kepada dua pendapat pula:- 1) Ibnu Hajar Al-Haitami berpendapat (menyamai dengan pendapat Syeikh Zakaria Al-Ansori di dalam Fathul Wahhab) bahawa tidak memadai dengan niat semata-mata bahkan mestilah disertai dengan berdoa menyampaikan pahala bacaan kepada orang yang mati. Beliau menjelaskan masalah niat tanpa berdoa, dengan katanya: “ Mendapat pahala manfaat (keberkatan dan rahmat yang hasil daripada bacaan), tidak pahala bacaan (lihat kitab Burgyatul Mustarsyidin bab الموصى به, m/s 320). Ali Syibramalisi menyatakan pendapat ini adalah pendapat yang lemah sebagaimana difahami daripada perkataan Syeikh Ahmad Bin Qasim (lihat Hasyiah Ali Syibramalisi bagi Nihayah, kitab Wasiat, jilid 6, m/s 93, Hasyiah Syarwani dan Ibnu Qasim bagi Tuhfah jilid 7, m/s 87). 2) Pendapat Syeikh Ramli yang menyatakan bahawa memadai hanya dengan niat disampaikan pahala bacaan Al-Quran kepada orang telah meninggal dunia. Pendapat ini bertepatan dengan pendapat mazhab Maliki, Hanafi dan Hambali (lihat kitab Burgyatul Mustarsyidin bab الموصى به, m/s 320). Kesimpulan yang dijelaskan oleh Syeikh Ramli tentang sampai pahala bacaan Al-Quran kepada simati itu jika terdapat salah satu keadaan berikut:- 1) Niat menyampaikan pahala bacaan Al-Quran kepada orang yang telah mati (di hadapan jenazah ataupun tidak). 2) Berdoa supaya disampaikan pahala bacaan itu kepada orang yang telah mati. 3) Membaca Al-Quran di kubur. (Lihat Hasyiah Ibnu Qasim bagi Nihayah, kitab wasiat, jilid 7, m/s 87) *Adapun disisi Ibnu Hajar Al-Haitami, tiada memadai hanya dengan niat untuk disampaikan pahala bacaan kepada jenazah yang ada di hadapan, bahkan mesti berdoa supaya disampaikan pahala bacaan itu kepadanya. Beliau bersandarkan dengan pendapat yang dipilih oleh Imam Nawawi di dalam kitab Azkarnya. Tambahan lagi, beliau bersandarkan dengan perkataan Imam Syafie, dengan katanya: “ Sesungguhnya nas Imam Syafie dan sekalian pengikutnya mengenai sunat membaca Al-Quran yang mudah (ayat atau surah yang pendek) di sisi simati serta berdoa selepas bacaan itu, bermaksud bahawasa ketika itu terlebih diharap ianya diperkenankan dan simati mendapat berkat bacaan itu sepertimana orang hidup yang hadir….” (Rujuk Tuhfah serta Hasyiah Syarwani dan Ibnu Qasim, kitab wasiat, jilid 7, m/s 88). dipetik dr:http://halimislam.multiply.com/journal
0

#7 User is offline   AsNiza 

  • Sang Pencari Destinasi
  • Group: Members
  • Posts: 10,011
  • Joined: 06-May 08

Posted 04 August 2008 - 08:14 AM

Assalamualaikum, sekadar teguran dan peringatan utk kita semua, berkongsi ilmu pengetahuan amatlah digalakkan,walau bagaimanapun, suka saya ingatkan, jangan sekali2 kita main copy n paste sahaja tanpa mengkaji/memikirkan/mendalami setiap apa yg ingin kita kongsikan itu.. sekarang ini, maklumat dihujung jari, tekan jer, search..pakcik google bleh bg kite pelbagai mcm jawapan..tetapi seringlah sematkn dlm dri kita, tak semua yg ada di internet nih, semuanya betul belaka..jgn terlalu mudah percaya dan jgn ambil mudah soal2 benar/palsu dan halal/haram...seeloknya, belajarlah dgn guru yg kita benar2 yakini..insyaAllah selamat dunia akhirat.. dan sekali lagi saya suka ingatkan..jgn kita ambil enteng soal2 yg berkaitan dgn agama..minta tolong dan harap semuanya jelas dgn hal ini..cubalah fikirkan, jika apa yg kita copy dan kemudiannya sebarkn kpd org lain, dr msa ke masa org yg membacanya bertambah..infinity.. dan kita kena ingat, org yg membaca pn ada pelbagai peringkat pengetahuan..Alhamdulillah jika dia baca dan dia tahu nilaikn mana yg betul mana yg salah..bagaimana pula jika ada yg baca dan terima semuanya bulat2 100%?Alhamdulillah jika fakta yg kita kongsikn itu betul..bagaimna pula kalau salah???sanggup kah kita menanggung dosa kerana 'menyesatkan' org lain?fikir-fikirkanlah.. maaf kerana terpaksa mengatakan sebegini..bukan niat saya utk menyekat kita berkongsi 'apa yg kita tahu' dgn org lain..tidak..saya cuma sekadar ingin mengingatkan, dalam berkongsi ilmu, perkara pertama yg kita perlu ada ialah, yakin dahulu dgn apa yg ingin kita kongsikan..mesti pastikan ianya betul!dan seterusnya setelah meyakini ilmu tersebut benar/sahih..kemudian,silakanlah berkongsi.... sesungguhnya,ilmu yg baik akan bertambah baik jika dikongsikn dgn insanyg lain.. wallahua'alam.
0

Share this topic:


Page 1 of 1
  • You cannot start a new topic
  • You cannot reply to this topic